Suhartini dan anggota KWT Melati sedang membuat piring dari pelepah pinang, wadah ramah lingkungan yang dibuat sebagai pengganti wadah styrofoam.
Musi Rawas, DempoNews.id – Di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, tanaman pinang kini memiliki arti lebih dari sekedar komoditas perkebunan. Berkat kegigihan Suhartini, pinang berhasil diolah menjadi sumber penghasilan yang menggerakkan ekonomi masyarakat, khususnya kaum perempuan.
Desa Sukakarya berjarak sekitar 21 kilometer dari pusat Kabupaten Musi Rawas. Dari 1.842 penduduk usia produktif, sebanyak 847 orang atau sekitar 45,89 persen belum memiliki pekerjaan. Kondisi perempuan di desa tersebut juga cukup memprihatinkan. Dari total penduduk perempuan, sekitar 584 orang atau 69 persen tergolong rentan secara sosial maupun ekonomi. Rendahnya tingkat pendidikan membuat sebagian harus menikah pada usia muda, sementara lainnya memilih menjadi pekerja migran demi membantu perekonomian keluarga.
Keadaan itu mendorong Suhartini untuk melakukan perubahan. Kesempatan datang pada 2018 ketika ia mengikuti pelatihan pertanian dan kewirausahaan di Kabupaten Lahat. Ilmu yang diperoleh dari pelatihan tersebut menjadi bekal untuk membangun kemandirian perempuan di kampung halamannya melalui sektor pertanian.

Sekembalinya ke Sukakarya, Suhartini mengajak 15 perempuan membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati. Mereka memulai usaha dengan membudidayakan jahe menggunakan polybag. Cara ini dipilih karena wilayah desa kerap terdampak banjir sehingga penanaman langsung di lahan berisiko mengalami gagal panen.
Akses Vital Teluk Lubuk Rusak, Pemerintah Provinsi Sumsel dan DPRD Diminta Jangan Tutup Mata
Bermodalkan iuran Rp10 ribu dari masing-masing anggota, sekitar 3.000 bibit jahe berhasil ditanam. Setelah panen, hasilnya diolah menjadi minuman bandrek yang kemudian dipasarkan. Meski perlahan berkembang, Suhartini menyadari potensi ekonomi desa sebenarnya terletak pada tanaman pinang yang sudah lama tumbuh di wilayah tersebut.
Selama ini masyarakat belum serius mengelola pinang karena harga jual kepada tengkulak hanya berkisar Rp4.000 per kilogram. Padahal, harga pinang di pasar global dapat mencapai rata-rata Rp19 ribu per kilogram. Akibatnya, banyak warga justru memilih menebang pohon pinang untuk dijadikan batang panjat saat perayaan Hari Kemerdekaan karena dianggap lebih menguntungkan.
Peluang mengembangkan potensi tersebut terbuka pada 2021 ketika PT Pertamina EP Pendopo Field meluncurkan program Gerakan Perempuan Lestarikan Alam Melalui Konservasi Pinang (GEMILANG).
Melalui program yang merupakan bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 itu, anggota KWT Melati memperoleh pelatihan mengenai budidaya, pengolahan hasil pinang, diversifikasi produk, hingga peningkatan kapasitas produksi.
Hasilnya mulai terlihat. Dari lahan seluas sekitar 15 hektare, KWT Melati mampu menghasilkan sekitar 900 kilogram pinang kering dan 200–300 kilogram pinang muda setiap bulan. Berbagai produk bernilai tambah pun lahir, mulai dari kopi pinang, bandrek pinang, permen pinang, hingga pemanfaatan daun pinang sebagai bahan pewarna alami untuk produk eco-print.
Perjalanan usaha tersebut semakin berkembang saat pandemi Covid-19. Tingginya permintaan masyarakat terhadap minuman herbal membuat produk berbahan jahe dan pinang buatan KWT Melati semakin diminati hingga dipasarkan ke berbagai daerah.
Terobosan Pengeboran di PALI, Pertamina EP Adera Maksimalkan Dua Reservoir dalam Satu Sumur
Saat ini, kelompok tersebut mampu membukukan keuntungan bersih sekitar Rp8 juta setiap bulan. Anggota yang terlibat dalam proses produksi memperoleh upah Rp12.500 per kilogram. Selain itu, dana kas kelompok juga dapat dimanfaatkan anggota untuk kebutuhan mendesak, seperti biaya pendidikan anak maupun keperluan keluarga. Jumlah anggota KWT Melati yang awalnya hanya belasan orang kini berkembang menjadi sekitar 30 orang.
“Perempuan di Desa Sukakarya sekarang dipandang sebagai orang-orang yang berkemampuan, bukan lagi sebagai penerima belas kasihan. Kami membantu ekonomi keluarga dan desa melalui kemampuan kami mengolah potensi pinang dan tanaman herbal lainnya,” ujar Suhartini.
Keberhasilan tersebut membawa KWT Melati semakin dikenal. Kelompok ini rutin mengikuti berbagai pameran UMKM di tingkat kabupaten, provinsi, nasional, bahkan internasional sebagai ajang memperkenalkan produk olahan pinang.
Dedikasi Suhartini juga mendapat apresiasi dari pemerintah. Pada 2024, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkannya sebagai salah satu dari 20 penerima Local Heroes Inspiration Award, penghargaan bagi tokoh yang dinilai berhasil memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.
Meski telah meraih berbagai prestasi, Suhartini terus berbagi pengalaman. Ia aktif mendampingi perempuan muda di daerahnya serta memberikan pelatihan kepada kelompok-kelompok perempuan di berbagai wilayah, termasuk di luar Kabupaten Musi Rawas.
“Saya ingin semua perempuan percaya bahwa perempuan bukan kelas kedua. Kami perempuan dan kami bisa memberi dampak baik bagi sekitar,” katanya.
Manager Community Involvement and Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menilai keberhasilan Suhartini menunjukkan bahwa perempuan mampu menjadi motor penggerak pembangunan apabila memperoleh kesempatan yang sama.
Menurutnya, pengalaman KWT Melati menjadi alasan PHR terus memperkuat program pemberdayaan masyarakat melalui Program GEMILANG agar semakin banyak perempuan yang mampu menciptakan perubahan positif di lingkungannya.
“PEP Pendopo Field dan PHR berkomitmen untuk terus menciptakan ruang-ruang kesetaraan tersebut melalui program CID seperti GEMILANG agar lahir Suhartini-Suhartini lainnya,” ujar Iwan.
Redaksi DempoNews.id

